Marvell Christian Siregar™
Horas... Tiada maksud menggurui dalam setiap tulisan, hanya berbagi pengalaman hidup yang hanya dapat dituangkan dalam sebentuk tulisan yang jauh dari arti sempurna dan dibagikan dalam blog minimalis ini. Anjuran membaca tulisan ini disaat senggang ditemani secangkir kopi/teh dan sepotong ubi rebus. Penikmat dapat memberi komentar pada tulisan tersebut dan mengisi polling untuk pembelajaran diri dan semoga dapat mewakili pribadi Marvell Christian Siregar seutuhnya.
Rabu, 23 Mei 2012
Guratan Arang | Memoar : Cengkerama antara sebatang pohon dan angin
Persembahan ulang tahun ke-90 buat Op.Amir Pasaribu
(21 Mei 1915 – 10 Pebruari 2010)
Marvell Christian Siregar™
Guratan Arang | Imajinasi Miring
kau menjadi orang gila ?
jika jawabmu belum, cobalah
dengar apa yang terlintas di otakku
menjadi orang gila…
rambut gimbal panjang tak karuan
kutu bersarang…
ketombe…
debu
bercampur jadi satu
gigi berkerak…
mulut bau…
wajah hitam…
badan kotor hitam…
bau dekil
membuat orang menutup hidung
tak mengenakan pakaian
cawat kertas koran penghias tubuh
berjalan tak karuan
terkadang maju…
mundur…
berlari…
melompat…
berputar-putar…
jungkir balik…
makan dari tong sampah
kais sana…kais sini
menangis…tertawa…menyeringai
tersenyum sambil memelintir rambut
terus berjalan…jalan…jalan
sampai ujung dunia
orang yang kutemui kadang melempariku sambil berkata :
“orang gila…awas !!!”
ku tak pernah berpikir walau tubuhku terluka
yang ada hanya tetap berpikir seperti orang gila
janganlah tersenyum apalagi tertawa
tapi renungkanlah…
Medan 1993
Marvell Christian Siregar™
Guratan Arang | Tersingkir
Buang,
…buanglah jauh
Tepi,
…tepikanlah aku
Sisih,
…sisihkanlah dari bayangmu
Lalukan jejak ditiup angin
Karmaku…
Pernah dimuat di Pusat Sajak Sedunia® | 13.05.2000
http://www.melayu.com/karya/sajak.htm
Marvell Christian Siregar™
Sabtu, 14 April 2012
Senin, 02 April 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Guratan Arang | Bocah & Kemerdekaan
Kulangkahkan kedua kaki
menyusuri tepian pematangTerdengar sayup nyanyian serombongan bocah cilik
“Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kitaHari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia…”
Lambat tapi pasti suara itu mendekatiku
Kuhentikan langkah sejenak.
Bocah-bocah kecil berbaris dengan kaki berselimut debu
Bertelanjang dada dan dekil
Sambil berlari kecil panggul senjata pelepah pisang
Dengan merah putih kecil di tangan berlalu di depanku
Nyanyian terus berkumandang
Ku tersenyum…
Ku terharu…
Di wajah yang lugu tergaris senyum disertai gelak tawa
Ku tak tahu apakah itu ungkapan mereka akan kemerdekaan
Lambat tapi pasti suara itu menjauhiku
Sayup terdengar suara pekik “MERDEKA”
Tegakku diatas kedua kaki ini
Ku merenung…
Cukupkah perjuangan kita sampai disini ???
Belum sempat ku menjawab pekik itu hilang dikejauhan
Kubulatkan tekad,
Perjuangan tidak mengenal akhir
Terus gelorakan dan pekik kemerdekaan di dada kita
Anak Indonesia
Merdeka !
Merdeka !
Merdeka !
Dimuat di warta Toba Pulp Lestari – No.08/II/2005|Agustus 2005
Marvell Christian Siregar™
Senin, 26 Maret 2012
Relaxation Sound | Best I Ever Had | by Vertical Horizon
vertical horizon - best i ever had www.qqreviews.com.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - jrx -NY12: vertical horizon - best i ever had www.qqreviews.com.mp3
Sabtu, 24 Maret 2012
Guratan Arang | BMO
catatan :
bemo merupakan moda transport darat yang merupakan singkatan becak motor.
Inspirasi ini terlahir semasa penulis menggunakan jasa bemo sewaktu bersekolah dan dituangkan dalam coretan ini.
Marvell Christian Siregar™
Senin, 19 Maret 2012
Refleksi Merah Putih
Belum hilang dan masih segar dalam ingatan kita,
ketika untuk pertama kali tim sepakbola Indonesia tampil berlaga di Piala Asia
2007 atau kejuaraan-kejuaraan bertaraf dunia ,
dimana sejenak setiap rakyat Indonesia seakan lupa dan terhipnotis dan lupa akan
multi krisis yang sedang melanda bumi pertiwi ini. Kebhinekaan yang menjadi
satu serta rasa nasionalisme yang kental sangat terasa saat tim Indonesia
berjuang untuk memberikan kemampuannya yang terbaik di pentas dunia demi Indonesia
Raya. Jatuh bangun para pemain yang berjibaku menunjukkan semangat yang pantang
menyerah serta diiringi tepuk tangan riuh rendah dari masyarakat yang terus
memberikan dukungan dan semangat seolah memberikan semangat dan tenaga baru
bagi setiap anak negeri ini untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan
kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.
Hati siapa dari anak negeri ini yang tidak tergetar
dan membuat bulu kuduk merinding ketika Indonesia Raya berkumandang gagah membahana angkasa di penjuru jagad
ini.
“……marilah kita berseruIndonesia bersatu…..
Hiduplah tanahku….
Hiduplah negriku….
Bangsaku….
Rakyatku….
Semuanya…..
Bangunlah jiwanya……
Bangunlah badannya…….
Untuk Indonesia Raya……..”
Sebagai anak negeri ini, pasti kita sangat
merindukan Indonesia yang dulu, dimana segenap komponen bangsa ini sama-sama
berjuang dengan darah, air mata, material berbekal semangat pantang menyerah dan
semangat patriotisme dan dilandasi rasa nasionalisme dengan tidak mengenal
suku, agama dan ras, serta doa yang dipanjatkan untuk mohon ridho-Nya merebut
sebuah kemerdekaan yang bebas dari fasilitas persenjataan yang
minim. Namun mengapa sekarang kita tidak bisa berbuat seperti itu lagi ?
Bila mendengar yel-yel “Indonesia….Indonesia….Indonesia” di setiap pertandingan olahraga
internasional, sadar atau tidak sadar nurani kita akan tersentuh dan seperti
ada semangat baru yang memotivasi kita untuk bangun menyatukan langkah dan
berjalan bersama merebut kemerdekaan yang kedua yaitu lepas dari belenggu
kemiskinan untuk tampil menjadi bangsa yang sejahtera adil dan makmur sesuai
yang dicita-citakan para pendiri negeri ini. Multi krisis yang mendera pada saat ini bukanlah menjadikan kita menjadi bangsa yang pesimis namun seharusnya menjadi cambuk yang melecut semangat kita untuk tetap optimis dan siap tampil dipanggung dunia sebagai bangsa yang besar dan bermartabat. Mari lepaskan semua atribut yang menghambat kemajuan dan tunjukkan bahwa sejak dahulu kala kita adalah bangsa yang besar dan terkenal dalam sejarah yang mampu berdiri tegak menatap masa depan bangsa yang lebih cerah. Menjadi utang segenap anak negeri untuk melanjutkan perjuangan dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Ya, untuk satu Indonesia Raya !!!
Marvell Christian Siregar™
Jumat, 16 Maret 2012
Perjalananku | Bambu atau Beringin ?
Beberapa hari yang lalu, penulis bertemu seorang teman dan pada satu kesempatan dia mengatakan "pohon makin tinggi, makin kencang angin meniupnya". Benar dan imajiku tergelitik memaknai kalimat tersebut. Yup.... dan pilihanku jatuh pada 2 jenis pohon yang ada dalam pikiranku yaitu beringin (ini tidak ada kaitannya dengan kampanye lho !) dan bambu. Kedua pohon ini selalu dilarang untuk digambar dalam psikotes. Mengapa ?
Penulis beranggapan bahwa beringin (Moraceae fam) adalah tanaman yang rindang, dengan batang yang kokoh dan kekar serta akar yang menancap dalam kegelapan tanah dan terkesan angker dan terkadang orang memujanya karena diyakini suci dan dapat melindungi.
Bambu (Bambusoideae fam.), tanaman dengan akar serabut, memiliki batang yang beruas-ruas dan hidup membentuk rumpunan dan tumbuh subur disekitar sumber kehidupan seperti sungai, danau dan lain sebagainya. Menikmati suasana sejuk dibawah rumpun bambu dan mendengarkan alunan irama alam dari angin yang menerpa dedaunannya dan bunyi batang-batang bambu yang berderak-derak mengikuti angin berhembus, serta suara air yang mengalir. Tanaman ini sangat bermanfaat dan memiliki sisi ekonomis bagi kehidupan manusia.
"Hai bambu, apakah kau siap menerima ujian dariku ?", ujar bayu kepada bambu.
Bambu berkata, "Wahai Sang Bayu yang perkasa, tentu dengan seijin-Nya kami siap menerimanya"
Dan anginpun bertiup "...wush...wush...wush !"
Singkat cerita sampai angin bertiup bak puting beliung mencoba mencabut bambu. Bambu mengikuti liukan angin kencang yang menerpa dan terdengar bunyi batang-batang bambu yang beradu "...pletak..ngeot..ngeot..pletak " dan sampai akhirnya Sang Bayu berhenti dan bertanya kepada bambu.
"Hei bambu, mengapa engkau tidak tumbang seperti beringin ? "
"Maaf Sang bayu, karena seijin-Nya walau tubuh kami yang kurus, lurus dan beruas dan semakin mengecil ke pucuknya selalu berusaha mencoba mengikuti gerakan arahmu bertiup, dan kami hidup dalam rumpun yang renggang sehingga membantu kami untuk memecah kekuatan angin, dan juga kami tidak menyalahkan angin yang bertiup", hanya itu saja.
Simple thing, seperti muatan filosofi kesederhanaan bambu dan negeri ini juga sudah membuktikannya pada masa perang kemerdekaan menghadapi penjajah. Pejuang dengan bambu runcing mampu menghadapi persenjataan yang lebih modern, namun dengan semangat kebersamaan seperti rumpun bambu dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi-Nya.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk membandingkan karya-Nya karena semua karya-Nya baik adanya, namun bagi kita selalu akan ada kelebihan dan kekurangan yang harus dibenahi. Penulis pada saat ini sedang melihat dari satu sisi saja.
Tidaklah elok untuk selalu bersikap positive thinking, karena negatif juga diperlukan sebagai parameter. Cahaya yang yang menerangi manusia tercipta karena positif dan negatif. Bagaimana kita menilai diri kita sudah positif ?
"Kesederhanaan adalah kualitas diri yang terpancar dalam sikap & perilaku dan bukan ungkapan diri"
Marvell Christian Siregar™
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Dalam perjalananku hari ini, aku mendengar percakapan 2 anak lelaki sekitar 5-6 tahun usianya. Sang adik merengek sambil menangis meminta di...






