Rabu, 23 Mei 2012

Guratan Arang | Kupu-kupu mungilku


Marvell Christian Siregar™

Guratan Arang | Memoar : Cengkerama antara sebatang pohon dan angin



Persembahan ulang tahun ke-90 buat Op.Amir Pasaribu
(21 Mei 1915 – 10 Pebruari 2010)
Marvell Christian Siregar™

Guratan Arang | Imajinasi Miring

terlintaskah dibenakmu
kau menjadi orang gila ?
jika jawabmu belum, cobalah
dengar apa yang terlintas di otakku
menjadi orang gila…
rambut gimbal panjang tak karuan
kutu bersarang…
ketombe…
debu
bercampur jadi satu
gigi berkerak…
mulut bau…
wajah hitam…
badan kotor hitam…
bau dekil
membuat orang menutup hidung
tak mengenakan pakaian
cawat kertas koran penghias tubuh
berjalan tak karuan
terkadang maju…
mundur…
berlari…
melompat…
berputar-putar…
jungkir balik…
makan dari tong sampah
kais sana…kais sini
menangis…tertawa…menyeringai
tersenyum sambil memelintir rambut
terus berjalan…jalan…jalan
sampai ujung dunia
orang yang kutemui kadang melempariku sambil berkata :
“orang gila…awas !!!”
ku tak pernah berpikir walau tubuhku terluka
yang ada hanya tetap berpikir seperti orang gila
janganlah tersenyum apalagi tertawa
tapi renungkanlah…

Medan 1993
Marvell Christian Siregar™

Guratan Arang | Tersingkir



Buang,
…buanglah jauh
Tepi,
…tepikanlah aku
Sisih,
…sisihkanlah dari bayangmu
Lalukan jejak ditiup angin
Karmaku…
Pernah dimuat di Pusat Sajak Sedunia®  | 13.05.2000
http://www.melayu.com/karya/sajak.htm
Marvell Christian Siregar™

Selasa, 27 Maret 2012

Guratan Arang | Bocah & Kemerdekaan

Kulangkahkan kedua kaki menyusuri tepian pematang
Terdengar sayup nyanyian serombongan bocah cilik

“Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia…”

Lambat tapi pasti suara itu mendekatiku
Kuhentikan langkah sejenak.
Bocah-bocah kecil berbaris dengan kaki berselimut debu
Bertelanjang dada dan dekil
Sambil berlari kecil panggul senjata pelepah pisang
Dengan merah putih kecil di tangan berlalu di depanku
Nyanyian terus berkumandang

Ku tersenyum…
Ku terharu…
Di wajah yang lugu tergaris senyum disertai gelak tawa
Ku tak tahu apakah itu ungkapan mereka akan kemerdekaan

Lambat tapi pasti suara itu menjauhiku
Sayup terdengar suara pekik “MERDEKA”
Tegakku diatas kedua kaki ini

Ku merenung…
Cukupkah perjuangan kita sampai disini ???
Belum sempat ku menjawab pekik itu hilang dikejauhan

Kubulatkan tekad,
Perjuangan tidak mengenal akhir
Terus gelorakan dan pekik kemerdekaan di dada kita
Anak Indonesia

Merdeka !
Merdeka !
Merdeka !




Dimuat di warta Toba Pulp Lestari – No.08/II/2005|Agustus 2005
Marvell Christian Siregar™

Senin, 26 Maret 2012

Sabtu, 24 Maret 2012

Guratan Arang | BMO




catatan :
bemo merupakan moda transport darat yang merupakan singkatan becak motor.
Inspirasi ini terlahir semasa penulis menggunakan jasa bemo sewaktu bersekolah dan dituangkan dalam coretan ini.

Marvell Christian Siregar™

Senin, 19 Maret 2012

Refleksi Merah Putih


Belum hilang dan masih segar dalam ingatan kita, ketika untuk pertama kali tim sepakbola Indonesia tampil berlaga di Piala Asia 2007 atau kejuaraan-kejuaraan bertaraf dunia , dimana sejenak setiap rakyat Indonesia seakan lupa dan terhipnotis dan lupa akan multi krisis yang sedang melanda bumi pertiwi ini. Kebhinekaan yang menjadi satu serta rasa nasionalisme yang kental sangat terasa saat tim Indonesia berjuang untuk memberikan kemampuannya yang terbaik di pentas dunia demi Indonesia Raya. Jatuh bangun para pemain yang berjibaku menunjukkan semangat yang pantang menyerah serta diiringi tepuk tangan riuh rendah dari masyarakat yang terus memberikan dukungan dan semangat seolah memberikan semangat dan tenaga baru bagi setiap anak negeri ini untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.

Hati siapa dari anak negeri ini yang tidak tergetar dan membuat bulu kuduk merinding ketika Indonesia Raya berkumandang gagah membahana angkasa di penjuru jagad ini. 
“……marilah kita berseru
Indonesia bersatu…..
Hiduplah tanahku….
Hiduplah negriku….
Bangsaku….
Rakyatku….
Semuanya…..
Bangunlah jiwanya……
Bangunlah badannya…….
Untuk Indonesia Raya……..”

Sebagai anak negeri ini, pasti kita sangat merindukan Indonesia yang dulu, dimana segenap komponen bangsa ini sama-sama berjuang dengan darah, air mata, material berbekal semangat pantang menyerah dan semangat patriotisme dan dilandasi rasa nasionalisme dengan tidak mengenal suku, agama dan ras, serta doa yang dipanjatkan untuk mohon ridho-Nya merebut sebuah kemerdekaan yang bebas dari fasilitas persenjataan yang minim. Namun mengapa sekarang kita tidak bisa berbuat seperti itu lagi ?
Bila mendengar yel-yel “Indonesia….Indonesia….Indonesia” di setiap pertandingan olahraga internasional, sadar atau tidak sadar nurani kita akan tersentuh dan seperti ada semangat baru yang memotivasi kita untuk bangun menyatukan langkah dan berjalan bersama merebut kemerdekaan yang kedua yaitu lepas dari belenggu kemiskinan untuk tampil menjadi bangsa yang sejahtera adil dan makmur sesuai yang dicita-citakan para pendiri negeri ini.

Multi krisis yang mendera pada saat ini bukanlah menjadikan kita menjadi bangsa yang pesimis namun seharusnya menjadi cambuk yang melecut semangat kita untuk tetap optimis dan siap tampil dipanggung dunia sebagai bangsa yang besar dan bermartabat. Mari lepaskan semua atribut yang menghambat kemajuan dan tunjukkan bahwa sejak dahulu kala kita adalah bangsa yang besar dan terkenal dalam sejarah yang mampu berdiri tegak menatap masa depan bangsa yang lebih cerah. Menjadi utang segenap anak negeri untuk melanjutkan perjuangan dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Ya, untuk satu Indonesia Raya !!! 

Marvell Christian Siregar™

Jumat, 16 Maret 2012

Perjalananku | Bambu atau Beringin ?

Beberapa hari yang lalu, penulis bertemu seorang teman dan pada satu kesempatan dia mengatakan "pohon makin tinggi, makin kencang angin meniupnya"Benar dan imajiku tergelitik memaknai kalimat tersebut. Yup.... dan pilihanku jatuh pada 2 jenis pohon yang ada dalam pikiranku yaitu beringin (ini tidak ada kaitannya dengan kampanye lho !) dan bambu. Kedua pohon ini selalu dilarang untuk digambar dalam psikotes. Mengapa ?
Penulis beranggapan bahwa beringin (Moraceae fam) adalah tanaman yang rindang, dengan batang yang kokoh dan kekar serta akar yang menancap dalam kegelapan tanah dan terkesan angker dan terkadang orang memujanya karena diyakini suci dan dapat melindungi.

Bambu (Bambusoideae fam.), tanaman dengan akar serabut, memiliki batang yang beruas-ruas dan hidup membentuk rumpunan dan tumbuh subur disekitar sumber kehidupan seperti sungai, danau dan lain sebagainya. Menikmati suasana sejuk dibawah rumpun bambu dan mendengarkan alunan irama alam dari angin yang menerpa dedaunannya dan bunyi batang-batang bambu yang berderak-derak mengikuti angin berhembus, serta suara air yang mengalir. Tanaman ini sangat bermanfaat dan memiliki sisi ekonomis bagi kehidupan manusia.

Suatu saat Dewa Bayu ingin menguji kekuatan sang beringin yang tumbuh di puncak bukit. Dia mulai meniupkan angin perlahan, beringin tersenyum pada bayu dengan memamerkan kerindangan daunnya. Bayu kembali menghembuskan angin yang lebih kuat dari sebelumnya, namun beringin masih tersenyum sambil menunjukkan batangnya yang kekar. Bayu meniupkan angin yang lebih kencang dari sebelumnya dan beringin tertawa dengan menunjukkan akarnya yang kokoh dan menyembul diatas tanah dan mencengkeram bumi.

Akhirnya sampai pada puncaknya, bayu meniupkan angin yang lebih kencang lagi, dan sang beringin berpeluh berusaha bertahan dengan daun-daunnya yang rapat tumbuh disetiap dahan dan cabang-cabangnya mencoba memecah kekuatan angin dan meliuk kesana kemari, dibantu kekekaran batangnya serta akar nan kokoh tersebut berusaha sekuat tenaga bertahan menghadapi kekuatan sang bayu, namun tak kuasa bertahan sampai akhirnya terdengar "...krak...krak...krak buummm..." dan sang beringin pun terlepas dari bumi. Yang tersisa hanya akar yang tercabut dan tanah yang berserakan, batang yang tak menunjukkan keperkasaan dan daun serta dahan-dahan yang akan mengering. Dewa Bayu pun berlalu

Setelah beringin yang kokoh tumbang, bambu berikutnya mendapat giliran seperti yang diujikan pada beringin.

"Hai bambu, apakah kau siap menerima ujian dariku ?", ujar bayu kepada bambu.
Bambu berkata, "Wahai Sang Bayu yang perkasa, tentu dengan seijin-Nya kami siap menerimanya"

Dan anginpun bertiup "...wush...wush...wush !"

Singkat cerita sampai angin bertiup bak puting beliung mencoba mencabut bambu. Bambu mengikuti liukan angin kencang yang menerpa dan terdengar bunyi batang-batang bambu yang beradu "...pletak..ngeot..ngeot..pletak " dan sampai akhirnya Sang Bayu berhenti dan bertanya kepada bambu.

"Hei bambu, mengapa engkau tidak tumbang seperti beringin ? "

"Maaf Sang bayu, karena seijin-Nya walau tubuh kami yang kurus, lurus dan beruas dan semakin mengecil ke pucuknya selalu berusaha mencoba mengikuti gerakan arahmu bertiup, dan kami hidup dalam rumpun yang renggang sehingga membantu kami untuk memecah kekuatan angin, dan juga kami tidak menyalahkan angin yang bertiup", hanya itu saja.

Simple thing, seperti muatan filosofi kesederhanaan bambu dan negeri ini juga sudah membuktikannya pada masa perang kemerdekaan menghadapi penjajah. Pejuang dengan bambu runcing mampu menghadapi persenjataan yang lebih modern, namun dengan semangat kebersamaan seperti rumpun bambu dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi-Nya.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk membandingkan karya-Nya karena semua karya-Nya baik adanya, namun bagi kita selalu akan ada kelebihan dan kekurangan yang harus dibenahi. Penulis pada saat ini sedang melihat dari satu sisi saja.

Tidaklah elok untuk selalu bersikap positive thinking, karena negatif juga diperlukan sebagai parameter. Cahaya yang yang menerangi manusia tercipta karena positif dan negatif. Bagaimana kita menilai diri kita sudah positif ?

"Kesederhanaan adalah kualitas diri yang terpancar dalam sikap & perilaku dan bukan ungkapan diri"

Marvell Christian Siregar™